Fungsi dan Bentuk Penyajian Musik Angklung di PT TOKKI Engineering and Fabrication Cilegon
DOI:
https://doi.org/10.55606/sokoguru.v6i1.7198Keywords:
Musik Angklung, Bentuk Penyajian, Fungsi Musik, Lingkungan Industri, Seni TradisionalAbstract
Penelitian ini mengkaji fungsi dan bentuk penyajian musik angklung di PT TOKKI Engineering and Fabrication Cilegon, Provinsi Banten. Kajian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik angklung di lingkungan perusahaan industri ini menjalankan beberapa fungsi penting, yaitu: (1) sebagai hiburan dan pembawa suasana; (2) sebagai sarana komunikasi antar pemain dan antara pemain dengan penonton; (3) sebagai penopang kesinambungan dan stabilitas kebudayaan; serta (4) sebagai sarana integrasi sosial antar karyawan. Dari segi bentuk penyajian, angklung disajikan dalam format ansambel di mana setiap pemain memegang satu atau beberapa nada yang harus dimainkan bersama-sama agar menghasilkan melodi yang utuh. Terdapat dua format pementasan yang digunakan, yaitu format berdiri dan format duduk, yang disesuaikan dengan jenis acara dan kondisi tempat pementasan. Proses pembelajaran lebih menekankan metode latihan berulang, pendengaran, serta penggunaan teknik kode tangan Kodály sebagai pengganti notasi tertulis formal. Kehadiran musik angklung di lingkungan industri modern ini membuktikan bahwa kesenian tradisional tetap dapat berkembang, beradaptasi, dan memberikan kontribusi positif di luar konteks masyarakat adat maupun lembaga pendidikan seni.
Downloads
References
Atmadibrata, E. (1992). Angklung dan perkembangan musik bambu di Indonesia. Bandung: Pustaka Jaya.
Djohan. (2009). Psikologi musik. Yogyakarta: Best Publisher.
Hermawan, D., Masunah, J., & Suanda, E. (2013). Angklung Sunda sebagai wahana industri kreatif dan pembentukan karakter bangsa. Jurnal Seni & Budaya Panggung, 23(2), 109–209.
Jamalus. (1988). Pengajaran musik melalui pengalaman musik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Masripah. (2012). Pembelajaran seni musik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Masunah, J. (2012). Pemuliaan angklung melalui model desa binaan berbasis wisata seni dan budaya. Jurnal Seni & Budaya Panggung, 22(1), 1–15.
Merriam, A. P. (1964). The anthropology of music. Chicago: Northwestern University Press.
Moleong, L. J. (2020). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soedarsono. (2002). Seni pertunjukan di era globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Sugiyono. (2020). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2021). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sumaludin, M. M. (2022). Angklung tradisional sebagai sumber belajar sejarah lokal. Prabayaksa: Journal of History Education, 2(1).
Sumaryo. (1981). Pengetahuan seni tari. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Winitasasmita. (1977). Arkeologi pengetahuan musik angklung. Bandung: Tidak diterbitkan.
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 SOKO GURU: Jurnal Ilmu Pendidikan

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







